Cerpen Action - Keadilan (Bagian 6)


Penculikan Pangeran

            Suatu ketika seorang pangeran dari kerajaan meminta izin dari raja untuk berkeliling untuk melihat situasi kondisi rakyatnya. Namun ia meminta sang Raja agar mengijinkan Pangeran menyamar. Hal ini dikarenakan jika dia terjun langsung ke wilayah tanpa menyamar maka sisi lain dari wilayah dan warganya tidak bermunculan. Pasti akan dirahasiakan dan bersikap seolah tidak mengalami kesulitan apapun.

            Pangeran pun berangkat dengan bibi nya, Puteri Clara dan seorang pengawal. Raja mengijinkan Pangeran untuk pergi. Perdana menteri pun memiliki siasat ingin menculik Pangeran dan berencana menjadikan sebagai umpan. Perdana menteri sendiri merupakan adik laki-laki dari Raja Brahma. Pangeran pun akhirnya berangkat bersama bibi dan beberapa pengawal.

            Perdana menteri pun mengutus Mahesa untuk memburu Pangeran beserta rombongan jikala keadaan mendukung, sampai disana Pangeran melihat keadaan ekonomi rakyat yang sangat memprihatinkan, pajak yang terlalu banyak serta kebutuhan sumber bahan pokok yang belum merata. Pangeran pun berfikir apakah Raja tidak tahu kalau rakyatnya menderita. Karena dalam bidang ekonomi raja memberikan kuasa penuh kepada perdana menteri yang tak lain adalah adiknya untuk mengurusnya.

            Bahkan ada beberapa warga yang terpaksa jual ternak dengan harga murah agar bisa membeli bahan pokok, Pangeran pun merasa iba dan kecewa. Pangeran pun kembali ke pondok penginapan ditemani bibinya dan menangis karena melihat kondisi kerajaan yang tidak memnyenangkan. Disuatu malam yang hening tiba – tiba terjadi penyerangan di pondok tempat pangeran beristirahat, Mahesa beserta komplotanya membakar dan memaksa pangeran untuk keluar, perompak itu mengancam membunuh Pangeran jika tidak mau ikut dengan mereka. Pangeran pun kaget kenapa penyamarannya bisa terbongkar. Clara pun segera membantu pangeran untuk pergi menyelamatkan diri.

            Pangeran pun di kejar sampai pelosok hutan, petarungan pun sengit pengawal kerajaan pun tewas seketika dibunuh oleh pasukan mahesa. Hanya Puteri Clara, bibi pangeran pun yang bisa bermain pedang. Pertarungan sengit namun, Puteri Clara terdesak , dengan sigap mereka berdua lari dan tidak sengaja bertemu dengan pengembara berpakaian compang camping, Orang itu mengeluarkan tongkat panjang dan bertarung melawan komplotan Mahesa, “Siapa kamu pemuda,  terima kasih sudah menolong”, kata Puteri Clara, “Aku Atlas, kalian dibelakangku dan tetaplah waspada” jawab Atlas.

            Atlas pun bergantian menyerang mahesa, mahesa dengan pistol nya menembak sekitar dan menyerang apayang dilihat, namun atlas berhasil menangkis dengan Tongkat nya, karena sibuk melawan Mahesa Atlas pun lupa kalo Pangeran sedang diincar. Pangeran pun ditangkap dan dijadikan tawanan oleh anak buah mahesa. Mahesa pun ketawa dan mengatakan ke atlas jika kau bergerak 1 cm maka pangeran akan mati, Atlas pun kaget kalau dia sedang bertemu Pangeran. Singkat cerita Atlas pun diserang oleh Mahesa secara membabi buta. Atlas hanya diam karena takut jika dia bergerak ,pangeran akan terancam.

            “Tetap diam di tempat dan jangan bergerak”, tiba tiba terdengar suara orang berbalut jubah hitam membawa sebilah pedang mulai menyerang komplotan yang menawan pangeran, dengan tebasan yang begitu cepat komplotan itu mati seketika. Mahesa pun dilawannya hingga tewas ditangan orang itu. Atlas pun segera menanyakan ke komplotan yang masih hidup namun baru sampai alasan pangeran diculik , dia tertembak di kepala, kemudian komplotan mahesa pun Tewas.

            Laki-laki berjubah hitam itu pun melepas jubahnya dan memperkenalkan diri, dia adalah Rief seorang pengembara juga, dia mengatakan ke Pangeran bahwa maksud dari komplotan tadi adalah ibarat ular jika kita menangkap kepala , maka ekornya akan diam, tapi jika kita menangkap ekornya, tentunya kepalanya akan menyerang. Atlas pun langsung menanggapi pernyataan Rief bahwa Pangeran diculik agar Raja marah dan datang sehingga pemberontak dapat membunuh raja.

            Tak lama setelah itu, ada kabar bahwa raja akan menemui Sura ketua komplotan yang pura pura mengaku menangkap pangeran dan meminta tebusan emas. Dengan syarat raja harus kesana sendiri. Raja pun akhirnya bertemu dengan Sura, namun sudah ada Panglima pasukan kerajaan dan salah satu satuan elit ksatria nusantara Dirga sang badai pasir, Raja pun marah karena dia tahu bahwa telah ditipu. Pertarungan pun tidak bisa dihentikan. Raja dan pasukan bertarung dengan Sura dan Dirga

Penulis: Ivan Rifky Hendrawan

0 Response to "Cerpen Action - Keadilan (Bagian 6)"

Posting Komentar