Penculikan Pangeran
Suatu ketika seorang pangeran dari kerajaan
meminta izin dari raja untuk berkeliling untuk melihat situasi kondisi
rakyatnya. Namun ia meminta sang Raja agar mengijinkan Pangeran menyamar. Hal
ini dikarenakan jika dia terjun langsung ke wilayah tanpa menyamar maka sisi
lain dari wilayah dan warganya tidak bermunculan. Pasti akan dirahasiakan dan
bersikap seolah tidak mengalami kesulitan apapun.
Pangeran pun berangkat
dengan bibi nya, Puteri Clara dan seorang pengawal. Raja mengijinkan Pangeran
untuk pergi. Perdana menteri pun memiliki siasat ingin menculik Pangeran dan
berencana menjadikan sebagai umpan. Perdana menteri sendiri merupakan adik laki-laki
dari Raja Brahma. Pangeran pun akhirnya berangkat bersama bibi dan beberapa
pengawal.
Perdana menteri pun
mengutus Mahesa untuk memburu Pangeran beserta rombongan jikala keadaan
mendukung, sampai disana Pangeran melihat keadaan ekonomi rakyat yang sangat
memprihatinkan, pajak yang terlalu banyak serta kebutuhan sumber bahan pokok
yang belum merata. Pangeran pun berfikir apakah Raja tidak tahu kalau rakyatnya
menderita. Karena dalam bidang ekonomi raja memberikan kuasa penuh kepada
perdana menteri yang tak lain adalah adiknya untuk mengurusnya.
Bahkan ada beberapa
warga yang terpaksa jual ternak dengan harga murah agar bisa membeli bahan
pokok, Pangeran pun merasa iba dan kecewa. Pangeran pun kembali ke pondok
penginapan ditemani bibinya dan menangis karena melihat kondisi kerajaan yang
tidak memnyenangkan. Disuatu malam yang hening tiba – tiba terjadi penyerangan
di pondok tempat pangeran beristirahat, Mahesa beserta komplotanya membakar dan
memaksa pangeran untuk keluar, perompak itu mengancam membunuh Pangeran jika
tidak mau ikut dengan mereka. Pangeran pun kaget kenapa penyamarannya bisa
terbongkar. Clara pun segera membantu pangeran untuk pergi menyelamatkan diri.
Pangeran pun di kejar sampai pelosok hutan, petarungan pun sengit pengawal kerajaan pun tewas
seketika dibunuh oleh pasukan mahesa. Hanya Puteri Clara, bibi pangeran pun
yang bisa bermain pedang. Pertarungan sengit namun, Puteri Clara terdesak ,
dengan sigap mereka berdua lari dan tidak sengaja bertemu dengan pengembara
berpakaian compang camping, Orang itu mengeluarkan tongkat panjang dan
bertarung melawan komplotan Mahesa, “Siapa kamu pemuda, terima kasih sudah menolong”, kata Puteri
Clara, “Aku Atlas, kalian dibelakangku dan tetaplah waspada” jawab Atlas.
Atlas pun bergantian
menyerang mahesa, mahesa dengan pistol nya menembak sekitar dan menyerang
apayang dilihat, namun atlas berhasil menangkis dengan Tongkat nya, karena
sibuk melawan Mahesa Atlas pun lupa kalo Pangeran sedang diincar. Pangeran pun
ditangkap dan dijadikan tawanan oleh anak buah mahesa. Mahesa pun ketawa dan
mengatakan ke atlas jika kau bergerak 1 cm maka pangeran akan mati, Atlas pun
kaget kalau dia sedang bertemu Pangeran. Singkat cerita Atlas pun diserang oleh
Mahesa secara membabi buta. Atlas hanya diam karena takut jika dia bergerak ,pangeran
akan terancam.
“Tetap diam di tempat
dan jangan bergerak”, tiba tiba terdengar suara orang berbalut jubah hitam membawa
sebilah pedang mulai menyerang komplotan yang menawan pangeran, dengan tebasan
yang begitu cepat komplotan itu mati seketika. Mahesa pun dilawannya hingga
tewas ditangan orang itu. Atlas pun segera menanyakan ke komplotan yang masih
hidup namun baru sampai alasan pangeran diculik , dia tertembak di kepala,
kemudian komplotan mahesa pun Tewas.
Laki-laki berjubah hitam
itu pun melepas jubahnya dan memperkenalkan diri, dia adalah Rief seorang
pengembara juga, dia mengatakan ke Pangeran bahwa maksud dari komplotan tadi
adalah ibarat ular jika kita menangkap kepala , maka ekornya akan diam, tapi
jika kita menangkap ekornya, tentunya kepalanya akan menyerang. Atlas pun
langsung menanggapi pernyataan Rief bahwa Pangeran diculik agar Raja marah dan
datang sehingga pemberontak dapat membunuh raja.
Tak lama setelah itu,
ada kabar bahwa raja akan menemui Sura ketua komplotan yang pura pura mengaku menangkap pangeran dan meminta tebusan emas.
Dengan syarat raja harus kesana sendiri. Raja pun akhirnya bertemu dengan Sura,
namun sudah ada Panglima pasukan kerajaan dan salah satu satuan elit ksatria
nusantara Dirga sang badai pasir, Raja pun marah karena dia tahu bahwa telah
ditipu. Pertarungan pun tidak bisa dihentikan. Raja dan pasukan bertarung
dengan Sura dan Dirga
Penulis: Ivan Rifky Hendrawan

0 Response to "Cerpen Action - Keadilan (Bagian 6)"
Posting Komentar