Keputusan yang tidak adil
Beberapa
hari kemudian rombongan pun telah sampai di kota, Kepala desa dan beberapa pemuda segera
beristirahat karena besok paginya acara perundingan akan dilakukan. Malam pun
berganti dengan pagi entah kenapa pagi kali ini matahari enggan untuk menunjukan
sinarnya. Burung pun bisu tak bersiul, awan pun mendung disertai gerimis yang
tak berhenti. Serasa kabar buruk menyayat hati.
Perundingan pun dimulai ,
pernyataan di sampaikan oleh kepala desa bahwa, yang pertama adalah kampung
mereka tidak boleh digusur karena disana ada senjata leluhur yang dijaga dari
generasi kegenerasi, pemerintah pusat boleh mengambil sebagian lahan di wilayah
kampung mereka dengan syarat ada ganti rugi yang ditujukan oleh kepala keluarga
yang rumahnya kena gusur. Kepala desa juga memberikan syarat agar diberikan
fasilitas listrik dan komunikasi karena belum terjangkau didaerah kampung mereka.
Rapat pun berjalan memanas , karena
rapat itu dihadiri oleh dua perdana menteri , menteri pertahanan dan ekonomi,
serta dihadiri oleh ketuju dewan elit atau dikenal dengan 7 kstaria nusantara
yang bertugas melindungi negara. Rapat awalnya berlangsung lancar saja sebelum
perdana menteri ekonomi memberikan saran bahwa kampung Bumiayu beserta wilayah
harus di gantikan karena jika masih ada sebagian warga di sekeliling jalan tol atau jalan lintas provinsi dapat
menganggu komoditas ekspor maupun impor, hal ini juga diperkuat bahwa jika
masih ada kampung bumiayu, pasti beberapa warga akan menghasut kepala desa
untuk menarik pajak atau upeti.Mungkin saat ini belum kerasa tapi jika proyek
jalan ini sukses, pastinya warga tidak tinggal diam. Begitulah sudut pandang
dari perdana menteri.
Perdebatan yang sengit antara kubu
perdana menteri ekonomi dan Kepala desa Bumi Ayu membuat suana meja bundar itu
memanas. Raja pun akhirnya menjadi titik tengah mengambil keputusan bahwa
intinya adalah Desa Bumiayu tetap ada dan Pemerintah setuju untuk mengambil
sebagian wilayah desa untuk dibuat Jalan, serta memberikan ganti rugi kepada
kepala keluarga yang rumahnya kena gusur tapi dengan syarat jika Jalan
penghubung lintas daerah ini sukses, warga Bumiayu tidak boleh menarik pajak
atau pungli setiap kendaraan yang lewat. Rapat pun berakhir dengan damai. Namun
tidak dengan perdana menteri ekonomi, nampak muka yang kesal karena ambisi dia
tidak tercapai, selepas Kepala Desa pulang pun, perdana menteri ekonomi berniat
menjarah kampung Bumiayu dengan menyewa sekelompok Bandit Gunung yang terkenal
kejam dan tidak kenal ampun. Perdana Menteri juga menginginkan pusaka emas yang
dijaga oleh warga Bumiayu, karena dipercaya jika memiliki pusaka tersebut bisa
membuat awet muda.
Perdana
menteri pun membuat siasat dan strategi agar rencana jahatnya tidak diketahui
oleh Raja dan masayarakat, Perdana menteri pun mengutus orang kepercayaannya
Danu untuk menghubungi Pemimpin Bandit agar mau menyerang Desa Bumiayu, dengan
iming iming emas dan wanita cantik para
Bandit yang dipimpin oleh Gema pun merencanakan untuk menyerang Desa Bumiayu
tepat tengah malam.

0 Response to "Cerpen Action - Keadilan (Bagian 2)"
Posting Komentar