Cerpen Action - Keadilan (Bagian 2)


Keputusan yang tidak adil

            Beberapa hari kemudian rombongan pun telah sampai di kota,  Kepala desa dan beberapa pemuda segera beristirahat karena besok paginya acara perundingan akan dilakukan. Malam pun berganti dengan pagi entah kenapa pagi kali ini matahari enggan untuk menunjukan sinarnya. Burung pun bisu tak bersiul, awan pun mendung disertai gerimis yang tak berhenti. Serasa kabar buruk menyayat hati.

Perundingan pun dimulai , pernyataan di sampaikan oleh kepala desa bahwa, yang pertama adalah kampung mereka tidak boleh digusur karena disana ada senjata leluhur yang dijaga dari generasi kegenerasi, pemerintah pusat boleh mengambil sebagian lahan di wilayah kampung mereka dengan syarat ada ganti rugi yang ditujukan oleh kepala keluarga yang rumahnya kena gusur. Kepala desa juga memberikan syarat agar diberikan fasilitas listrik dan komunikasi karena belum terjangkau didaerah  kampung mereka.

Rapat pun berjalan memanas , karena rapat itu dihadiri oleh dua perdana menteri , menteri pertahanan dan ekonomi, serta dihadiri oleh ketuju dewan elit atau dikenal dengan 7 kstaria nusantara yang bertugas melindungi negara. Rapat awalnya berlangsung lancar saja sebelum perdana menteri ekonomi memberikan saran bahwa kampung Bumiayu beserta wilayah harus di gantikan karena jika masih ada sebagian warga di sekeliling  jalan tol atau jalan lintas provinsi dapat menganggu komoditas ekspor maupun impor, hal ini juga diperkuat bahwa jika masih ada kampung bumiayu, pasti beberapa warga akan menghasut kepala desa untuk menarik pajak atau upeti.Mungkin saat ini belum kerasa tapi jika proyek jalan ini sukses, pastinya warga tidak tinggal diam. Begitulah sudut pandang dari perdana menteri.

Perdebatan yang sengit antara kubu perdana menteri ekonomi dan Kepala desa Bumi Ayu membuat suana meja bundar itu memanas. Raja pun akhirnya menjadi titik tengah mengambil keputusan bahwa intinya adalah Desa Bumiayu tetap ada dan Pemerintah setuju untuk mengambil sebagian wilayah desa untuk dibuat Jalan, serta memberikan ganti rugi kepada kepala keluarga yang rumahnya kena gusur tapi dengan syarat jika Jalan penghubung lintas daerah ini sukses, warga Bumiayu tidak boleh menarik pajak atau pungli setiap kendaraan yang lewat. Rapat pun berakhir dengan damai. Namun tidak dengan perdana menteri ekonomi, nampak muka yang kesal karena ambisi dia tidak tercapai, selepas Kepala Desa pulang pun, perdana menteri ekonomi berniat menjarah kampung Bumiayu dengan menyewa sekelompok Bandit Gunung yang terkenal kejam dan tidak kenal ampun. Perdana Menteri juga menginginkan pusaka emas yang dijaga oleh warga Bumiayu, karena dipercaya jika memiliki pusaka tersebut bisa membuat awet muda.

            Perdana menteri pun membuat siasat dan strategi agar rencana jahatnya tidak diketahui oleh Raja dan masayarakat, Perdana menteri pun mengutus orang kepercayaannya Danu untuk menghubungi Pemimpin Bandit agar mau menyerang Desa Bumiayu, dengan iming iming emas  dan wanita cantik para Bandit yang dipimpin oleh Gema pun merencanakan untuk menyerang Desa Bumiayu tepat tengah malam.

Penulis : Ivan Rifky 

0 Response to "Cerpen Action - Keadilan (Bagian 2)"

Posting Komentar